Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

Globalisasi dan Jalan Pragmatisme

Oleh : Ferdiansyah Rivai,
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada


Beberapa waktu yang lalu, Profesor Ekonomi Politik Internasional Harvard University, Dani Rodrik, pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Tantangan Baru Pendukung Merkantilisme. Pada tulisan tersebut, ia mengemukakan pembahasan menarik mengenai kemunculan kembali mazhab merkantilisme ekonomi –golongan pendukung sistem yang menuntut peran aktif negara dalam mengakomodir hubungan rakyat dan pasar- di tengah tren globalisasi dan perdagangan bebas berbasis hukum ekonomi pasar seperti saat ini.
Cina kemudian dijadikan alibi. Rodrik menganggap keajaiban ekonomi Cina sebagai produk dari suatu pemerintah yang mendukung, merangsang, dan secara terbuka mensubsidi produsen industri, baik di dalam maupun di luar negeri.

CAPITALISM???



THE GREAT NATIONS HAVE ALWAYS ACTED LIKE GANGSTERS,
AND THE SMALL NATIONS LIKE PROSTITUTES.
-STANLEY KUBRICK-

Selasa, 25 Februari 2014

Pahlawan Devisa yang “Diperkosa".


Oleh : Yazfi Alam Al-haq (cak Yasfi)
          Incunabula Institute.

Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.

Hari pahlawan ini, aku habiskan tiduran diatas kasur. Walau aku tau di kampus sedang diadakan “pesta” besar-besaran milad ormasku, tapi entah kenapa hal itu tidak masuk agenda dalam kehidupanku hari ini. Tapi hari pahlawan memang sempat mengusik, namun tak liar. Karna buat ku, tidak satupun pahlawan berharap menjadi pahlawan, mereka hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk bangsanya, dengan segala kesadaran, kemampuan serta yang mereka miliki. Dan bukan gelar "Pahlawan" yang mereka ingin kan, namun keberlajutan perjuangan yang diteruskan dalam estafet perjuangan oleh generasi setelahnya. Buatku untuk itulah pahlawan. Selesai,

Gottbegnadeten (Nazi dan Rencana "Menyelamatkan Diri".)

Oleh : Ayub (Ayub El-Marhoum)

         Eks SekDir Sekolah IMMawati.

Kini banyak muncul buku yang menggugat penulisan sejarah arus utama. Mereka menawarkan sejarah alternativ, sudut pandang yang membuat suatu kaum tidak kucil sebab kalah. Tawaran seperti ini pastilah lahir sebab orang-orang sudah begitu yakin dengan celotehan Churcill yang masyhur itu “histoy written by the winner”. Mungkin kakek Winston berucap demikian sebab baginya sejarah tidak lebih dari cerita perang, selalu ada menang dan kalah. Bagi saya sendiri, tidak penting oleh siapa sejarah ditulis karena bias memang susah dihindari. Bagian terpenting dari sejarah adalah menjadi palajaran, bagi yang mau belajar tentu saja. Bahkan sejarah penulisan sejarah pun seharusnya dijadikan pelajaran ; kelak jangan melihat sejarah hanya sebagai cerita perang agar kalian menulisnya bukan sebagai pemanang atau pecundang. Tulislah ia sebagai manusia lemah yang mesti belajar dari apa yang telah terjadi.

Sabtu, 07 Desember 2013

Diskursus dan Demokrasi Indonesia.



Oleh : Noor Afif Fauzi
Mahasiswa Pasca sarjana UGM

Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.
Perkembangan keilmuan dan intelektual manusia membawa ke ranah dimana pemahaman filsafat politik klasik dalam sebuah spektrum berupa garis datar right-left dianggap tidak relevan lagi. Hal ini terutama dikarenakan dialektika materi dan ide dalam debat ontologi tidak kunjung menemukan sintesis nya dan bahkan kemunculan varian-varian baru cara mengada manusia membuat sebuah paradigma tidak bisa lagi memaksakan mono validitas kebenaran menjadi miliknya semata. Habermas merupakan salah satu filsuf yang melakukan perlawanan terhadap oposan biner ide-materi ini dengan paradigma komunikasi nya. Pandangan ini menempatkan konstruksi nalar pengetahuan manusia diperoleh dari perbincangan-perbincangan rasional dalam ruang yang bebas dan emansipatoris (ruang publik).

Rezim Guttenberg dan Revolusi Ide-Ide Rendahan.

Oleh : Ayub (Ayub El-Marhoum)
         Eks SekDir Sekolah IMMawati.

“Eh, saya suka baca tulisanmu Yub”
“Kak, aku suka lo baca blognya kakak”
“saya senang lo mas, baca status-statusmu”

Meski saya tidak pernah merasa diri penulis, walau saya sangat segan untuk sekedar bermimpi bisa punya buku sendiri, tapi demi mendengar ucapan semacam itu yang kadang dilontarkan spontan di tempat-tempat tak diduga oleh orang-orang yang tak tertebak…, saya seperti telah membaca testimony pembaca di sampul bagian dalam buku karya saya.

Pemantauan Kinerja Birokrasi Pemerintahan melalui Media Sosial.

          Oleh : Hasan Syamsudin
                    Ketua Bidang Hikmah IMM PC. AR Fahrudin

 Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.


               Indonesia merupakan negara demokrasi dengan corak masyarakat yang majemuk. Kemajemukan masyarakat tersebut tentu merupakan suatu khazanah unik yang merupakan aset kebanggaan bangsa, namun sejalan dengan hal tersebut corak kemajemukan masyarakat Indonesia ternyata sejalan dengan macam masalah yang dihadapinya. Salah satu permasalahan bangsa yang menjadi langganan dari hari ke hari adalah permasalahan korupsi. Korupsi yang secara harfiah dietitian sebagai perilaku perorangan atau kelompok dengan memanfaatkan otoritas kekuasaanya untuk memperkaya diri sendiri ternyata hampir dapat ditemui di berbagai institusi di Indonesia. Tidak hanya terjadi di Instansi birokrasi namun juga terjadi di instansi non birokrasi. Permasalahan yang menjamur tersebut tentu haruslah disikapi dengan langkah nyata berupa tindakan tegas dari aparatur penegak hukum. Berkaitan dengan hal tersebut, sangatlah jelas apabila perangkat hukum harus dijalankan sesuai dengan amanah undang-undang yang berlaku sehingga tindak pidana korupsi dapat diminimalisir.

Imperium Modal dan Penjajahan.

Oleh : Yazfi Alam Al-haq (cak Yasfi)
          Incunabula Institute.

Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.
Kembali lagi pada zaman itu, saya rasa tidak akan ada manusia di bumi pertiwi ini lupa. 350 tahun hidup dalam cengkraman belanda. Kaum pribumi tak lebih dari kerbau yang sedang membajak sawah yang pada akhirnya seluruh hasil keringat serta hasil bumi di angkut kesebuah negara yang kita sebut belanda.

Apa itu yang disebut  penjajahan? Sebuah negara datang kemudian menginjakkan kaki, menodong senjata dan menginjak-injak harkat dan martabat sebuah bangsa? Mungkin banyak dari kita menganggap inilah sebuah penjajahan. Namun kita lupa sebenarnya belanda atau VOC? Atau belanda sebagai negara atau rakyat belanda yang menanam modal dalam negara antah berantah dengan modal yang murah? Yang mana penjajahan sebenarnya?

Agama Bukan Akar Kekerasan

George Junus Aditjondro

Peneliti kekerasan komunal di Poso. Pengajar pada Program Studi Ilmu, Religi, dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.


 Betulkah agama-agama dunia, khususnya agama-agama Samawi, mengajarkan perdamaian? Ya, kalau hanya membaca ajaran yang tertuang dalam kitab-kitabnya. Tidak, kalau kita melihat praxis para pengikutnya.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk ketiga agama Samawi yang sama-sama mengakui Ibrahim sebagai cikal bakal para penganutnya, tapi juga untuk agama-agama dari lembah Sungai Indus, di mana para militan Hindu pernah merusak sebuah mesjid di India. Mahatma Gandhi pun mati dibunuh oleh seorang militan Hindu  karena menolak sang pejuang anti-kekerasan (ahimsa) menentang pembagian India menjadi dua ne

Sabtu, 23 November 2013

Korupsi, Tanggungjawab Siapa?


Oleh. Rijal A. Mohammadi
Kabid Keilmuan IMM cab. Ar Fachrudin.

Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.
Pertanyaan dalam judul di atas sangat sederhana, bahkan, barangkali, naif. Namun, jawabannya tidak akan pernah sederhana, dan juga tidak mungkin akan naif, kecuali jika direkayasa sebagai pembenaran belaka (justification). Contoh sederhana adalah apa yang terbentang luas di hadapan negeri ini. Banyak lembaga pengawasan, korupsi juga kian menggila. Anehnya, perbandingan antara koruptor yang ditangkap dan jumlah korupsi yang ditengarai tidaklah sepadan sama sekali. Ibarat membandingkan semut dengan gajah.

Dunia Tanpa Imajinasi.

Oleh: Irfan Aulia U.
         Penggiat Sekolah Profetik.

Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.
  Tulisan ini merupakan salah satu respon positif atas tulisan yang membahas tentang “generasi yang hilang” yang diketengahkan oleh seorang budayawan Indonesia, Radhar Panca Dahana.

  Tak hendak menyanggah terlebih lagi menyalahkan karena semua yang ditulis merupakan suatu kebenaran yang sulit di bantah, generasi X dan generasi Y telah lama berlalu, setidaknya mereka sudah menjadi kakek dan buyut yang sudah terlampau tua untuk memikirkan bangsa Indonesia bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun kedepan. Generasi X hidup dari berbagai tekanan, baik itu tekanan social, politik bahkan budaya. Generasi yang hidup pada saat sooeharto memperlihatkan taji kekuasaan dan menerobos panji-panji aturan main yang berlaku (1980). Dan generasi Y atau kira-kira generasi yang hidup pada tahun 1976-1995 merupakan generasi yang akrab dengan radio satelit, televisi multikanal atau dengan kata lain generasi internet pertama di Indonesia.

Jumat, 22 November 2013

Peran Mahasiswa dalam Kepeloporan Sosial. ( Membangun karakter Mahasiswa Kritis dan Islami)

          Oleh : Hasan Syamsudin
                    Ketua Bidang Hikmah IMM PC. AR Fahrudin


Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.

Mahasiswa sebagai agen sosial (pelopor perubahan sosial) seharusnya dapat berperan penuh dalam proses mencerdaskan serta mensejahterakan lingkungan sekitar (masyarakat) mengingat mahasiswa merupakan golongan dari kaum yang terdidik, akan tetapi kenyataanya tidak demikian untuk saat ini, mahasiswa yang seharusnya menjadi lentera dalam kegelapan ternyata tidak lagi dapat menerangi sisi ruang gelap yang ada disebabkan berbagai hal diantaranya gaya hidup mahasiswa yang terlalu hedon (teralu bersenang-senang) serta terjebaknya mahasiswa pada orientasi belajar yang salah.

Gerakan Pembebasan, Upaya Taubat atas Dosa Sosial

                              M. Hilmy Dzulfadli/pegiat IMM Komisariat FH UMY


Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.

Dalam diskursus keislaman, ada idiom yang bernama dosa. Dosa sendiri dimaknai sebagai suatu efek negatif atas perbuatan yang kita lakukan. Mengetahui bahwa ia berdosa dapat menyebabkan seseorang menjadi resah secara psikologis, sehingga memutuskan untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut. Dalam konteks ini, dosa erat kaitannya dengan perbuatan negatif.

Cerita Ironi Bangsa Beras.

Oleh : Yazfi Alam Al-haq (cak Yasfi)

          Incunabula Institute.

Nuun, wal qolami wa maa yasthurun.

Sekali lagi aku akan menulis.

Entah ini penting atau tidak, dibalik tubuhku yang sempat terkapar semalam, terhampar sebuah rasa cintaku akan bangsaku, akan kemanusiaan.

Entah bagaimana aku akan memulai, tapi kawan sadarlah. Penjajahan belanda jauh lebih mulia dari pada dijajah bangsa sendiri,  beliau bercerita, selama masa penjajahan setiap petani di jogja dibebani pajak dan upeti maksimal 20% dari hasil panen pertahun yang dimana dari upeti itu akan dibagi untuk kerajaan dan kompeni. Dan kalau km tau hari ini, pajak tanah yang dibebankan oleh pemerintah kepada petani paling tinggi sampai 100% panen pertama dan 50% panen kedua pertahun dengan asumsi setahun 3 kali panen. Ya, siapa yang menjajah hari ini?

Sabtu, 16 November 2013

Pendidikan Hukum Sebagai Pendidikan Manusia

 M. Hilmy Dzulfadli

pegiat IMM Komisariat FH UMY



Dalam buku ‘pendidikan hukum sebagai pendidikan manusia’, tertuang gagasan-gagasan besar dari Alm. Prof. Satjipto Rahadjo (Prof. Tjip) sebagai perumus paradigma hukum progresif. Buku tersebut disusun dengan gaya bahasa yang renyah, dengan sistematika yang cukup runtut dan mengalir. Secara garis besar, gagasan Prof. Tjip dapat dirangkum menjadi beberapa bagian; sejarah hukum modern di Indonesia, krisis pada penyelenggaraan hukum Indonesia dan paradigma hukum progresif sebagai solusi alternatif atas krisis yang terjadi.

Rabu, 13 November 2013

Politik Dinasti Tb Chasan Sohib

Oleh. Rijal A. Mohammadi
Kabid Keilmuan IMM cab. Ar Fachrudin.


Persoalan negara dan kesejahteraan masyarakat selalu menjadi issue yang relevan dibelahan dunia manapun termasuk Indonesia dan dalam rentang waktu kapan pun. Tuntunan agar Negara mewujudkan kesejahteraan masyarakat merupakan bagian yang inheren dari manifestasi kedaulatan Negara meliputi daerah-daerahnya. Kesejahteraan masyarakat merupakan bagian dari indicator keberhasilan Negara menjalankan kedaulatannya. Negara bertindak sebagai agen perubahan institusional yang diinginkan, bukan berarti bahwa Negara adalah entitas otonom yang bisa bertindak sendiri terbebas dari kekuatan politik dan social di dalam masyarakat atau terbebas sama sekali dari hambatan-hambatan sumber daya atau factor lainnya.[1]

Ilmu sebagai Masalah sosial.

Oleh : Yazfi Alam Al-haq (cak Yasfi)
          Incunabula Institute. 
Mungkin tulisan ini sedikitpun tidak memiliki bobot akademis dari sudut pandang manapun. Namun tulisan ini hanya saya buat sebagai sarana mencurahkan ke-galau-an hati saya terhadap realita bangsa, Negara dan masyarakat kita yang mengesampingkan hati nurani serta moril atas nama materi.

Syarat Jadi Guru Baik ; Jangan Pikirkan Masa Depan Siswa!

Oleh : Ayub (Ayub El-Marhoum)
         Eks SekDir Sekolah IMMawati.

Add caption
Di dunia ini mungkin tidak banyak guru yang memiliki ketenaran seunik salah satu guru yang pernah mendidik si jenius Albert Einstein.